Imunisasi atau Tidak?? -Bukan Sebuah Pro dan Kontra-

21 Sep 2011


Bismillaah..
Mencoba meluangkan waktu untuk memenuhi amanah dari saudara kami agar menulis hasil diskusi tentang vaksinasi (imunisasi) di sela-sela merawat putrid kecil kami tercinta.
Awalnya diskusi ini hadir ketika membaca sebuah tulisan di sebuah blog yang (http://saif1924.wordpress.com/2009/01/25/bahaya-tersembunyi-dalam-vaksin/). Waktu itu kami menanyakan, bagaimana sebenarnya imunisasi ditinjau dari sisi medis, mengingat banyak sekali informasi tentang proses pembuatan vaksin yang dikalauaim mengandung dan menggunakan zat-zat yang diharamkan dalam Islam. Berikut jawaban beliau:


Tentang pembuatan, insya Allah apa yang banyak orang katakan (=yang anti vaksin) bahwa vaksin dibuat dari nanah, darah anjing, darah babi, atau darah orang berpenyakit, adlh tidak benar. Benar, dalam sebagian reaksi enzimatis menggunakan bantuan enzim yang diekstrak dari babi, ini karena sulit dihindari. Tapi alhamdulillah, ahli vaksin dari Amerika yang pnah saya ajak diskusi, diikuti pula oleh dosen2 saya di UGM, mereka sudah menemukan alternatif dari sapi. Kalau dibaca pembahasan Al Furqon, sbenarnya tidak mengapa menggunakan enzim dari babi, terlepas dari hilaf para ulama tentang hal ini. (Silakan baca edisi lengkapnya di majalah, tapi edisi agak lama).
Sebenarnya, prinsip dasar vaksin adalah "memberikan kekebalan tubuh terhadap infeksi, sebelum infeksi itu terjadi". Jadi vaksin berusaha "membangkitkan/melatih" sistem pertahanan tubuh kita sebelum infeksi yang real terjadi. Kalau ditanya, bagaimanakah efektivitasnya? Ini sangat bervariasi terhadap jenis vaksinnya. Ada vaksin yang sangat efektif, sehingga alhamdulillah beberapa jenis penyakit infeksi tidak ditemukan lagi di beberapa belahan dunia ini, seperti: penyakit difteri, polio, dan measles. Namun, ada yang kurang efektif, seperti vaksin BCG, shga meskipun vaksin BCG sdah ada, tetap sj Indonesia banyak kasus TBC. Karena vaksin BCG hanya meningkatkan sedikit sistem pertahanan terhadap infeksi TBC. Namun, kita sebagai peneliti, kita berusaha dan terus berusaha untuk menemukan vaksin yang mendekati 100% efektif shga bisa memberikan perlindungan terhadap infeksi, dgn izin Allah Ta'ala. Sperti vaksin BCG, saat ini para peneliti vaksin (saya pernah ketemu dgn peneliti vaksin TBC dari Jerman), sedang berusaha mengganti vaksin BCG yang ada saat ini shga menjadi lebih efektif.
Apakah vaksin mengikis rasa tawakal kepada Allah? Jawabannya tidak, karena Allah Ta'ala (atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memerintahkan kita untuk mencegah penyakit sebagaimana perintah untuk mencari pengobatan ketika sakit telah terjadi. Dan semua adalah bagian dari "mengambil sebab" yang merupakan bagian dari tawakal itu sendiri. (baca penjelasan di Al Furqon tentang vaksin tentang masalah ini)
Apakah benar semua vaksin berarti memasukkan virus atau bakteri? Ini juga tidak benar. Karena sebagian vaksin memasukkan antibodi, antibodi yang dibuat di laboratorium. Prinsipnya sama dgn antibodi ibu transfer ke anak. Perlu diketahui, anak saat usia 3-6 bulan pertama sangat bergantung pada antibodi dari ibunya (yang didapat lewat plasenta), sehingga anak pada usia-usia tersebut bisa lebih kebal terhadap infeksi. Tetapi, karena antibodi ibu tidak bertahan lama, hanya sekitar 3-6 bulan, maka ada periode dimana anak sangat rentan terhadap infeksi, karena dia belum mampu memproduksi antibodi sendiri karena masih kecil, sedangkan antibodi dari ibunya "sudah habis". Oleh karena itu, kita bantu dengan membuat antibodi (bukan dari virus atau bakteri),
Benar, vaksin dibuat dari virus atau bakteri. Tapi bakteri atau virus seperti apa? Kita bukan pembunuh yang sedemikian teganya memasukkan virus dan bakteri berbahaya ke dalam tubuh bayi yang masih mungil. Tapi, virus dan bakteri yang kita masukkan adalah yang sdah dilemahkan (dengan "dibuang" bagiannya yang mematikan) atau bahkan "dimatikan", atau bahkan hanya "diambil sebagian komponennya saja", tidak "semua bagian tubuhnya". Karena prinsipnya adalah kita berusaha mengambil komponen virus atau bakteri yang paling bisa membangkitkan sistem pertahanan tubuh, tanpa menyebabkan penyakit itu sendiri atau membahayakan si anak. dan untuk ini, perlu penelitian bertahun-tahun dan dana jutaan dolar.
Kalau mbak tanya saya, saya jawab "lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya". Insya Allah. Saat ini pun, saya sedang tergabung dalam grup peneliti vaksin untuk rotavirus, salah satu virus mematikan penyebab diare pada anak kurang dari 5 tahun. Alhamdulillah dapat dana banyak dari Australia, puluhan milyar. Mereka bilang ini konspirasi, masya Allah, ini tuduhan yang sangat keji dan tidak berdasar. Karena mereka tidak pernah bisa menunjukkan data faktanya, kecuali hanya nuikilan-nukilan yang tidak jelas, hanya "qiila wa qaala". Saya berbicara seperti ini bukan karena saya sdah menjadi antek-anteknya orang barat karena belajar vaksin di Belanda, tapi inilah ilmu yang saya dapat, dan saya akan terus berusaha untuk belajar vaksin sehingga bisa memberikan manfaat untuk jutaan anak di Indonesia, dan seluruh dunia.
Kalau ditanya " Apa bedanya anak yang divaksin dan tidak jika toh ternyata anak yang tidak divaksin pun sama sehatnya bahkan lebih jarang sakit dari yang divaksin?" maka pernyataan ini perlu diteliti lebih lanjut. Anak-anak yang divaksin belum tentu menjadi lebih sehat, benar jika itu terkait dgn penyakit non-infeksi. Karena vaksin hanya pencegahan untuk penyakit infeksi, bukan yang lain. Atau benar juga untuk penyakit infeksi, jika si anak memang secara alamiah ada gangguan pada sistem pertahanan tubuhnya. Tapi sangat jarang dtemukan di Indonesia, lebih banyak ditemukan di Negara-negara barat (anak dengan gangguan sistem pertahanan tubuh). Jadi bukan masalah vaksinnya, tapi mungkin memang ada bagian lain dari si anak yang bermasalah, misalnya: gizi? kelainan bawaan? kelainan tumbuh kembang? kasih sayang/perhatian orang tua? lingkungan sekitar sehat atau tidak?
Sekian, jawaban dan penjelasan ini bukanlah berasal dari orang yang ahli vaksin, tapi dari orang yang sedang dalam tahap awal belajar vaksin. Kalau ada kesalahan, maka akan saya ralat kemudian, sesuai ilmu yang Allah karuniakan di hari-hari kemudian. Semoga bisa memberikan pencerahan.
*saya sedih banget baca tulisan orang-orang itu tentang vaksin, andai mereka tahu apa yang kita kerjakan untuk membuat vaksin, mereka tidak akan menuduh sedemikian itu. apalagi, ilmuwan peneliti vaksin juga ada yang muslim dan saya kenal beberapa dari mereka, mereka amanah, apa mereka -yang notabene orang pinter- ilmuwan dengan mudahnya jadi boneka orang kafir? Ketika mereka gagal tidak menemukan vaksin, mereka tidak akan melaunching vaksin, diulang lagi penelitiannya sampai benar-benar di approved bahwa aman untuk manusia, itu pun setlah diapproved kok timbul mslh, akan lgsg ditarik seperti kasus vaksin Rotavirus. Yang rugi tidak hanya orang muslim, atau negara-negara berkembang, tapi juga anak-anak di negara maju karena vaksin Rotavirus juga didistribusikan ke negara maju. Apa mereka tahu itu? Sekarang bandingkan, apakah mereka mempublish kasus-kasus side effect karena habbatussauda atau bekam?
Di Belanda ada daerah-daerah yang karena faktor religius, mereka menolak untuk divaksin, biasa disebut "Bible Belt", mereka tersebar di beberapa daerah di Belanda. Akibatnya, terjadi outbreak Measles di Belanda thun 1999-2000 dengan lebih dari 3000 kasus Measles dan setelah dicek ternyata terjadi di daerah-daerah yg didominasi oleh orang-orang Bible Belt. Padahal kita tahu, sejak vaksin Measles berhasil ditemukan tahun 1965-an, kasus Measles sudah hampir tidak ada lagi.
Kalau vaksin itu dibuat agar negara dunia ke-3 tetap bodoh dan tidak berkembang, mengapa vaksin juga dijual ke negara maju? bahkan vaksinnya lebih banyak. Dan di negara-negara maju juga ada program vaksinasi. Kalau agar negara berkembang tidak maju, mengapa mereka memberi kesempatan agar negara berkembang membuat vaksin sendiri? Contohnya, kita sekarang punya Biofarma, di Bandung, yang memproduksi beberapa jenis vaksin sendiri.
Oh ya, side effect karena vaksin juga terjadi di negara maju, bisa dicek kasus intususepsi pasca vaksin Rotavirus (yang dicurigai karena side efek vaksinnya, terus vaksinnya ditarik) itu juga terjadi di negara maju. Atau tahun 1990-an ketika dicurigai ada kaitan antara vaksin Hepatitis dengan kejadian penyakit syaraf tertentu (Multiple Sclerosis), itu juga terjadi di negara maju, salah satunya Perancis. Sehingga pemerintah Perancis tahun 1995an kemudian mengumumkan kewaspadaan kejadian Multiple Sclerosis yang (mungkin) terjadi akibat vaksin Hepatitis. Meskipun msih kontroversi, benar atau tidak itu terkait vaksin Hepatitis, tapi setidaknya membuktikan bahwa kalau ada efek samping terkait vaksin, tidak hanya dialami negara berkembang, negara-negara muslim, tapi juga dialami oleh negara maju.*))
O ya, satu tambahan lagi: tuduhan tentang konspirasi dalam vaksin haruslah dibuktikan, jangan asal menukil, jangan berbuat dzalim, meskipun pada orang kafir. Kalau teori ini benar, mereka akan me-launching vaksin dengan asal-asalan, yang penting mereka bisa kaya dan "membodohi" orang muslim. Tapi lihat, apa yang mereka katakan ketika sampai sekarang mereka tidak bisa membuat vaksin untuk Moraxella catarhalis dan Mycoplasma pneumonia? Mereka bilang (di depan saya dan student lainnya ketika di ahir kuliah di sini), "Kami belum bisa membuat vaksinnya, meski sudah penelitian bertahun2". Mereka tidak malu untuk mengakui, bahkan di depan muridnya, kalau mereka belum bisa buat vaksin untuk dua bakteri itu. Inilah amanah ilmiah, dibangun di atas kejujuran.
Wassalamu'alaikum....
------------------------------------------
Sekali lagi, tulisan ini hadir bukan untuk memperuncing antara pihak yang pro dan yang kontra vaksinasi, karena pilihan itu sepenuhnya adalah merupakan hak setiap orang tua dengan mempertimbangkan kebaikan anak tentu saja.



*) Narasumber adalah dr. Muhammad Saifuddin Hakim yang saat ini sedang menempuh S2 jurusan Infection and Immunity, di      Erasmus Medical Center Roterdam
*)) Tambahan yang baru saja dikirimkan via inbox kepada saya
*))) Dipublish pertama kali di FB pribadi

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Bagus

rara satu mengatakan...

Berikut kajian Vaksin dan tidak di vaksin dlm tinjauan syare'at dlm sebuah seminar di semarang. Vaksin dibagi 2 dari sdt pandang syariat:

1. Bersentuhan dg barang najis

2. Tdk bersentuhan dg barang najis. Keduanya harus memenuhi syarat umum terdahulu spt obat.

==== 1. Kemudharatan tdk boleh dihilangkan dg kemudharatan. ==== 2. Apabila 2 mafsadah bertentangan maka diperhatikan mana yang mudharatnya paling berat dan mana yg paling ringan ( mafsadah divaksin dan mafsadah tdk divaksin, mana yg dipilih). Artinya vaksin mempunyai efek samping atau tidak?

Bila secara ilmiah terbukti VAKSIN AMAN baru kita lihat vaksin yang mana yg mubah mana yg haram.

Ttg kehalalan dan keharaman vaksin dilihat dari bersentuhan tidaknya ia dengan najis/ keharaman.

Ttg tripsin babi.

Tripsin babi ini termasuk salah satu istihalah. Dlm hal istihalah ini ada khilafiyah .

1. Pendapat ulama madzhab Syafi'I ( kita mengenal dan mendengar bahwa orang indonesia sebagian besar mengikuti madzab syafi'i ) jika barang itu termasuk najis 'aini, ( ex: babi dan anjing) maka itu tidak akan mengubah statusnya. Shg hukumnya HARAM.

2. Pendapat yang membolehkan adalah pendapat abu Hanifah dan Muhammad Syaibani, juga pendapat Al-Malikiyah dan dhohiriah.

3. al-istihalah tdk bisa merubah sesuatu yg bersifat najis menjadi suci. Ini pendapat Abu YUsuf dan salah satu pendapat mazhab Al-Maliki dan diriwayatkan dlm salah satu hadist riwayat Imam Ahmad. Pendapat inilah yg diikuti oleh lembaga fatwa di Saudi Arabia.

Selanjutnyya bila hanya ada vaksin HARAM. Maka vaksin haram tadi dihukumi boleh bila DARURAT.
Ada batasan dan syarat darurat: Batasan darurat jg ada khilafiyahnya:

1. Menurut Abu Bakar Al-Jashas, makna darurat adalah kondisi ditakutkan akan terjadi bahay mengancam nyawa atau sebagian anggota badan karena tdk makan.

2. Ad-Dardiri: Darurat adalah kondisi menjaga diri dari kematian dan dari kesusahan yang amat sangat.

3. Menurut Suyuthi: " Darurat adalah posisi seseorang pada sebuah batas dimana kalau tdk mengkonsumsi sesuatu yg dilarang maka ia akan binasa atau nyaris binasa.

Dg batasan itu maka obat atau apapun itu harus memenuhi syarat DARURAT.

Syarat darurat ada 4:

1. Benar2 terdapat darurat. (Bkn dusta)

2. Tdk ada cara lain untuk mengurangi kerusakan kecuali dg memakai bahan haram itu.

3. Perbuatan haram itu dipastikan akan menghilangkan kerusakan bukan hanya sebatas prediksi..probabilitas (PASTI itu artinya derajat kepercayaannya harus 100 persen dan pasti itu hanya ALLAH yg memastikan)

4. Melakukannya tdk menyebabkan kerusakan yg besar.

Fatwa MUI yg dikeluarkan pada tgl 4 Sya'ban 1413H/ 16 JULI 2010 ttg penggunaan vaksin meningitis bagi hj dan umrah. Fatwa no 6 th 2010:

1. Vaksin MencevaxTM ACW135Y : hukumnya haram

2.Menveo meningoccocal dan vaksin meningococcal hukumnya halal ( artinya bahannya halal)

3.Vaksin yg boleh digunakan adalah vaksin yg HALAL. Yg keempat adalah pembatalan vaksin sebelumnya.

4. Fatwa MUI no 5 th 2009 yg membolehkan penggunaan vaksin haram DINYATAKAN TDK BERLAKU Hukum boleh disini artinya tdk ada dosa baik yng menggunakan atau tdk Artinya mau divaksin ya boleh mau tidak divaksin ya boleh krn toh ada metode imunisasi yg lain Metode imunisasi yg lainnya contohnya metode yg dicontohkan Rasulullah spt yg terdapat dlm Al-Qur'an QS AlBaqarah ttg syariat ASI hingga 2 tahun, dlm hadist2 ttg tahnik, kurma dll. DR Ahmad Zain An-Najah menyatakan MEMANG BENAR semua itu adalah metode imunisasi.



Resume Seminar Imunisasi dalam tinjauan medis dan syari'at
Narasumber:

1. DR. Zain An-Najah (Wakil Majlis Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat )

2. dr. Novilia S. Bachtiar, M.Kes (PT Biofarma)

3. dr. Soejatmiko, SpA ( K) (Ketua IDAI Pusat)

4. DR. Badruzzaman, APT, DEA (Pakar Herbal PT.HOLISTIK BIO MEDICINE Purwakarta)

Moderator: dr. Mohammad Ali Thoha Assegaf, MARS (Dokter, Praktisi Thibunnabawi dan Herbal)

rara satu mengatakan...

Kessimpulan Judul perlu diperbaiki karena dari judulnya saja sdh gagal paham. Imunisasi itu banyak macamnya, sedangkan Vaksinasi itu bagian Imunisasi. Pilihan sehat imunisasi bukan melalui Vaksinasi saja.

Posting Komentar